Mulut komat-kamit sembari mengunyah daun sirih, air dari kendi kecil ditenggak. Sesaat kemudian air tersebut disemprotkan ke arah kepala buaya, dan apa yang terjadi? Sang buaya seperti tersihir dan mematung tak bergerak. Itulah salah satu adegan debus yang di pertontonkan di Taman Indonesia Buaya Jaya. Kelompok Debus berasal dari Desa Cigadung, Pandeglang, di pimpin oleh Bapak Arsad, .

Berkunjung ke Taman Indonesia Buaya Jaya yang terletak di Sukaragam – Serang – Bekasi dengan koordinat S 06o29.161’ E 106o54.963’ tidak hanya melihat berbagai jenis buaya dari seluruh Nusantara, namun kita juga bisa menikmati atraksi menarik menaklukan buaya. Seperti ketika kami berkunjung beberapa waktu yang lalu, begitu masuk ke Taman Buaya langsung saja pandangan mata kami tertuju ke stadion kecil yang terletak di sisi kanan. Namanya saja sudah membuat penasaran ”Stadion Jaka Tingkir”, Jaka Tingkir adalah legenda semasa kerajaan Demak diperintah oleh Raden Patah yang bisa menaklukan Buaya. Pada saat kaki melangkah memasuki stadion tersebut, terlihat tulisan "atraksi Buaya tiap hari libur nasional dan hari minggu tiap jam 11 dan jam 2 siang".

Suatu kebetulan, kami datang pada hari Minggu sehingga bisa menyaksikan atraksi-atraksi buaya ini. Kami tiba pukul 10.30, sehingga masih ada waktu 30 menit lagi sebelum pertunjukan dimulai. Kami memutuskan untuk menunggu atraksi buaya sebelum berkeliling melihat buaya-buaya yang lain *penasaran*. Walaupun suasana stadion terasa agak panas karena atap yang terlalu rendah, semilir angin ditambah dengan iringan musik khas Sunda membantu suasana menjadi agak nyaman. Menjelang pukul 11 pengunjung terus bertambah banyak dan sebagian besar kursi stadion telah terisi. Semua kelompok umur hadir disini, mulai dari balita sampai dengan kakek dan nenek. Tambah penasaran saja kami menunggu pertunjukan dimulai. "Wah... kayaknya bakalan seru nih.." kata saya dalam hati.

Benar saja, Pak Arsad dengan celana hitam dan ikat kepala khas Pendekar keluar dari balik ruangan dan segera menuju ke arena pertunjukan dengan mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung semua. Sesi pertama adalah atraksi ular, disini dijelaskan beberapa tipikal ular dengan contoh ularnya. Beberapa hal yang menarik tentang penjelasan ular adalah apa yang akan kita lakukan apabila digigit ular berbisa. Yang pertama dilakukan adalah ikat kuat2 bekas gigitan ular tersebut, buatlah posisi gigitan ular tersebut lebih rendah dari jantung. Hal ini untuk mencegah proses percepatan racun ular menjalar ke jantung. Atau jika kita dililit oleh Ular Sanca, jangan sekali-kali melukai ular tersebut karena akan berakibat lilitan ular tambah kencang dan semakin mematikan. Caranya sederhana, lipatlan ujung ekor ular tersebut dan putar pelan-pelan lilitannya dan anda akan segera terbebas dari lilitan Ular Sanca.

Pertunjukan kedua adalah Debus dari Banten yang dipimpin oleh Pak Darman. Sempat miris melihat pertunjukan ini, karena jarum-jarum berukuran besar ditusukkan ke tangan, leher, lidah dan semua jarum tersebut tembus antara kulit yang satu dengan kulit yang lain. Setelah itu dilakukan aksi memasak telur sampai masak dengan kompor kecil di atas kepala orang dengan kondisi tertusuk. Huahhh... baru sekali ini saya melihat yang "beginian". Namun semuanya berjalan dengan lancar, telur matang, jarum yang tertusuk diambil satu per satu..luar biasa.

Saat yang ditunggu-tunggu penonton adalah atraksi manusia dengan buaya. Setelah makan daun sirih dan komat-kamit Pak Arsad menyemprotkan air dan menyentuh kepala buaya dengan jari telunjuk dan buaya dengan tenang berbaris rapi. Setelah itu atraksi yang dilakukan adalah tiduran di atas buaya, memanggul buaya sampai dengan bermesraan dengan buaya...semakin luar biasa. Atraksi buaya ini bagaikan menyihir semua yang hadir. Tepuk tangan membahana dari semua penonton.

Setelah selesai menonton atraksi, kami berkeliling melihat-lihat buaya yang kurang lebih berjumlah 500 ekor dengan berbagai jenis dari berbagai daerah di Indonesia. Perlu diketahui bahwa buaya merupakan hewan yang dilindungi oleh Undang-Undang Menhut No 401/KPTS-VI/1986 dan Menhut No 869/KPTS-VI/1991. Di taman ini total ada 6 kandang besar buaya, masing –masing kandang berisi sekitar 80-90 buaya. Buaya-buaya ini makan dua kali dalam satu minggu dan sekali makan memerlukan 300-500 kg daging. Dari berbagai koleksi yang ada, yang cukup menarik perhatian adalah buaya buntung. Konon buaya ini adalah buaya keramat, boleh percaya boleh tidak. Bagi yang berkenan dipersilahkan memberikan sedekah berupa daging atau ayam seikhlasnya khsusunya untuk buaya buntung tersebut.

”Buaya itu makannya sangat banyak Pak. Dengan 700 kg per minggu – per kandang perolehan tiket masuk saja tidak menutup biaya operasional. Apalagi harus memberikan sebagian hasil penjualan karcis kepada Pemerintah Daerah seetmpat, tambah nombok lagi,” Begitu kata Pak Setu Utomo salah seorang Pegawai Senior di Taman Buaya ini. Maka dari itu kehadiran kita semua di Taman Buaya ini melalui pembelian tiket adalah sumbangsih yang luar biasa terhadap keberlangsungan Taman Buaya ini secara khsusus dan secara umum kita juga ikut melestarikan buaya yang merupakan salah satu hewan yang dilindungi.

Selain melihat buaya, kita juga dapat melihat beberapa hewan lain yang ada di sekitar taman, seperti monyet, ular, ayam hutan dan beberapa jenis hewan lainnya. Beberapa mainan anak berupa ayunan, patung buaya, saung-saung juga disediakan untuk bersantai melepas lelah setelah berkeliling melihat-lihat buaya. Sebuah panggung dengan kapasitas tempat duduk 200 an orang juga tersedia bagi anda yang akan membawa rombongan dan mengadakan acara gathering disini. Bagi anda yang ingin tahu banyak tentang buaya, saatnya mengunjungi taman ini! bagi anda yang ingin ikut melestarikan buaya saatnya mengunjungi taman ini!
By : AMGD
Menuju ke Taman Buaya
Telp : 021 - 89952559
Dengan kendaraan pribadi
Dari arah Tol Cikampek ambil pintu keluar Cikarang. Kemudian terus ambil jalan arah Lippo Cikarang – Pasar Serang. Tak lama kemudian setelah Pasar Serang akan melewati BTS Indosat. Sekitar 300 meter dari situ sebelah kana jalan akan ketemu Taman Buaya.
Dengan kendaraan umum:
Dari Cikarang naik Koasi K17, dan tinggal turun depan Taman Buaya.

















