Bandung tak cuma punya tempat jajan enak, Juga bukan melulu factory outlet. Coba tengok Bandung Selatan, Ada Kawah Putih di Ciwidey dan Situ Patengang. Di kawasan selatan Bandung lainnya, tepatnya di Pangalengan, ada juga obyek wisata menarik, Situ Cileunca. Nah, di ujung pembuangan danau buatan itulah mengalir Sungai Palayangan. Ya, air Sungai Palayangan memang bersumber dari danau seluas 1.400 hektar itu. Di sungai yang hanya lebarnya antara 4-10 meter itulah kami melakukan arung jeram Minggu (20/6) lalu.
Perjalanan dari Jakarta melewati Tol Padalarang, keluar di gerbang tol Moh. Toha yang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Dari sana kita tinggal mengikuti arah ke Banjaran dan kemudian ke Situ Cileunca dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Untuk masuk ke kawasan Situ Cileunca pengunjung dan kendaraan dikenakan biaya retribusi. Per orang Rp 2.500. Dan mobil Rp 5.000. Atau terkadang bisa pakai harga borongan.


Tiba di lokasi, kami disuguhi makanan ringan khas Sunda seperti ubi rebus, singkong rebus, kacang rebus, bandrek dan tak lupa Kartika Sari. Kenyang mengisi perut dan berganti kostum, kami pun berkumpul untuk mendengarkan briefing dari kepala skipper dari pihak penyelenggara. Standar saja, instruksinya seputar bagaimana kalau kita jatuh dari perahu, dan bagaimana resiko kalau kita tidak memegang dayung dengan benar.
Arung jeram di Sungai Palayangan berbeda dibandingkan di sungai lain. Kalau di sungai lain, start langsung ke sungai, di sini pertama-tama perahu dilarungkan dulu di Situ Cileunca. Di danau ini kami berkesempatan untuk berlatih mendayung maju, mundur, pindah kiri, pindah kanan dan boom. Sampai di ujung dam, kami turun dulu dari perahu, dan perahu karet pun ditarik naik oleh skipper. Kami semua menyeberang jalan dan turun ke arah tepi sungai. Suara riakan sungai yang deras langsung terdengar dan serta-merta membuat kami tak sabar ingin segera mengarunginya.
Hal istimewa lainnya dari sungai ini, hanya berjarak tak lebih 10 meter dari titik start, jeram pertama yang berupa drop sudah menanti. Boom di sungai ini pun berbeda, kita tak hanya harus berpegangan tali, melainkan juga harus turun merosot ke lantai perahu. Jika terlambat, tanggung sendiri deh risikonya, terlempar sukses dari perahu. Teman seperahu saya dalam pengarungan sebelumnya tahun lalu pernah merasakan terlontar dari perahu di Jeram Domba. Dan teman satunya lagi mental ke depan hingga dagunya berbenturan keras dengan helm teman di depannya. Itu karena mereka kurang cepat merosot ke lantai perahu.

Waktu itu saya duduk di bagian depan, lontaran tak terasa namun saya kelelep air di dalam perahu. Nah, karena ini kali ketiga saya mengarungi Sungai Palayangan, maka saya memilih duduk di bagian belakang untuk merasakan sensasi terlontar ke depan. Benar saja, di jeram yang sangat menukik dan terjal ini, walaupun saya sudah duduk manis di lantai perahu dan berpegangan erat pada tali di kedua sisi, tetap saja saya terlontar nyusruk ke depan. Hanya saja karena posisi saya sudah tepat dan pegangan saya kuat, saya tak sampai mental keluar perahu. Namun teman sebelah saya kepentok dayungnya sendiri pada gigi depan. Untung tidak sampai kenapa-napa. “Cuma sedikit mati rasa nih di gigi,” katanya.
Jeram Domba benar-benar jadi favorit saya deh. Nggak pernah nemu jeram model begini di sungai lain yang pernah saya arungi. Konturnya benar-benar menukik tajam. Mungkin tinggi dropnya sekitar 2 meter. Membuat saya kangen selalu ingin kembali. Walaupun sayangnya, dibanding dua pengarungan saya sebelumnya tahun lalu, debit air kali ini kurang pol. Terbukti di Jeram Kecapi, kami tak perlu melakukan boom dengan mendudukkan diri di lantai perahu, melainkan cukup berpegangan pada tali. Padahal tahun lalu sang skipper mewanti-wanti agar kami tak telat turun ke lantai perahu sebab kalau terjatuh bisa terseret puluhan meter sampai jeram yang panjang dan berliku-liku ini habis. Namun begitu, tetap saja jeram ini membuat kami berteriak-teriak dan beberapa teman kemasukan air saat mulut menganga.
Aksi kami di Jeram Kecapi ini sangat luar biasa kalau diabadikan dengan kamera video. Karena arusnya begitu deras dan turun-naik sehingga membuat perahu kita seolah terpantul-pantul. Maka jangan lupa untuk menitipkan kamera yang ada mode videonya pada kru darat yang memang berjaga-jaga di setiap sudut berbahaya. Ya, satu lagi keistimewaan sungai ini. Tim rescue-nya tidak naik perahu, melainkan jalan kaki setengah berlari di tepian sungai yang memang bisa dilalui. Kebetulan operator yang saya pakai selalu menugaskan tim rescue darat dalam jumlah banyak, sehingga salah satu dari mereka bisa dimintai tolong untuk mengabadikan kami selama pengarungan. Jadi buat yang hobi narsis, di sinilah tempatnya. Fotonya bisa banyak euy….
Kekurangan sungai ini cuma satu, yaitu panjang rutenya hanya sekitar 5 km. Kurang berasa. Apalagi karena derasnya air, kita jadi jarang sekali mendayung. Jika tanpa beristirahat di tengah pengarungan, total memakan waktu tak sampai satu jam. Sayang kan, kalau buru-buru. Jadi walaupun tidak lelah, kita akan diajak istirahat di bagian sungai yang jauh lebih lebar, yang memiliki sedikit daratan di tengahnya. Di sinilah kita bisa berfoto-foto, juga menikmati “body rafting”. Hmmm, bukan body rafting sungguhan, tapi hanya bermain-main air dengan menelentangkan tubuh dan memasrahkannya diseret arus yang tak terlalu deras namun dingin airnya.
Jeram-jeram yang dilalui usai istirahat tak ada yang sedahsyat jeram-jeram sebelumnya. Hanya jeram-jeram kecil, yang bahkan aman jika kita melintasinya dengan cara berdiri di perahu. Di akhir pengarungan, ada skipper yang jahil membalikkan perahu, ada juga yang menyuruh kita langsung mencemplungkan diri. Lumayan, bermain-main air sebentar sebelum naik untuk menyudahi pengarungan.
Di tempat finish mobil-mobil angkot yang disediakan telah menanti, untuk mengantar kita kembali ke Situ Cileunca. Jalannya kecil, mendaki dan berkelok-kelok. Di kiri kanan terhampar bukit dalam balutan warna hijau kebun teh. Nggak mau rugi, kami meminta supir untuk berhenti sejenak di sudut yang berpemandangan indah. Apa lagi kalau bukan berfoto-foto. Ah, indah nian Bumi Parahiyangan ini.
By: Mayawati Nur Halim
















