Malam ini kami putuskan sementara untuk “say no to drink coffee” biar bisa cepat memejamkan mata supaya besok paginya bisa bangun pagi dan pergi keluar penginapan menuju ke Pasar Terapung di Muara Kuin di atas Sungai Barito, hmm diatas sungai? Yup, suatu pasar di mana letaknya persis di atas sungai, bukan di atas bangunan, tepatnya di atas perahu-perahu yang memuat barang dagangan, dan pembelinya juga menumpang perahu untuk berbelanja.
Mengawali perjalanan ke pasar terapung, dari hotel menuju pelabuhan mini di sungai Martapura, yang persis terletak di sebelah Swiss BelHotel, setelah malam sebelumnya kami janjian untuk menyewa dengan juragan perahunya. Kami berangkat bertiga dan ditemani dua rekan lokal dari Banjarmasin sepakat menyewa sebuah perahu kecil yang diawaki seorang tukang perahu. Kami berlima berangkat setelah mengangkat logistik ke atas perahu, tas berisi makanan ringan dan minuman juga tidak ketinggalan dan pastinya kamera digital buat mengabadikan perjalanan kami.

Kami berangkat menempuh perjalanan menyusuri Sungai Martapura dimana di pinggirnya terhampar siring-siring yang rapi dan didesain sebagai kawasan citiwalk –nya Kota Banjarmasin, dengan diiringi suara orang mengaji dari Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, ba’da subuh di sungai itu, -- seperti laiknya jalan raya – sudah bergeliat dengan ditandai hilir mudiknya perahu-perahu yang lain. Perahu kami melaju terus melewati Sungai Martapura membelah terusan kanal – kanal kecil, menerobos jembatan-jembatan yang rendah yang memaksa kami menundukkan kepala was-was terbentur kolong jembatan dan terkadang tukang perahu mematikan mesin diesel temple perahu agar jalan perahu kebih tenang dan stabil. Pemandangan di keremangan ba’da subuh yang benar-benar menarik, karena di sisi kanan kanal-kanal ini ada perkampungan tradisional khas Banjarmasin, warganya menjadikan Sungai-Sungai di sana sebagai halaman muka rumah-rumahnya. Tidak salah kalau sebutan “ Venice from the east” disematkan ke Kota Banjarmasin. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya perahu kami menembus ke Sungai Barito, sungai terlebar di Kalimantan Selatan.
Setelah keluar dari kanal yang menghubungkan Sungai Martapura ke Sungai Barito, samar-samar terlihat Pasar Kuin di kejauhan -- di selimuti sinar lembut matahari yang baru terlihat di ufuk timur – ada kerumunan perahu-perahu yang saling merapat satu sama lain melakukan transaksi jual beli yang dilakukan di atas perahu. Penumpang perahu baik tua muda, lelaki wanita memegang dayung perahu masing-masing melakukan jual beli layaknya di pasar tradisional di daratan. Terlihat juga ibu-ibu tua yang berkebaya masih trampil mengendalikan perahu dan menawarkan dagangannya. Disini penjual dan pembeli sama-sama naik perahu. Hebat kan?
Setelah puas berkeliling melihat-lihat area yang menjadi tempat transaksi, tukang perahu kami mematikan mesin perahunya, untuk memberi kesempatan kami mengambil foto dan sekedar mengudap bekal makanan kecil dan minuman di pasar terapung. Pasar terapung pagi itu dipadati pedagang hasil bumi, barang barang mentah, buah-buahan, kelapa, minyak bahkan makanan matang juga di jual belikan. Ada pedagang warung kopi, dan pastinya tidak ketinggalan Soto Banjar yang menjadi makanan khas Banjarmasin juga tersedia. Tak lama berhenti, sesaat kemudian perahu kami di datangi perahu-perahu pedagang yang menawarkan komoditasnya. Layaknya jual beli di pasar biasa kami menawar salah satu barang dagangan yaitu buah jeruk yang ditawarkan seorang ibu pedagang, begitu ada kesepakatan harga kami mencoba beli beberapa kilogram buah jeruk. Dan di pagi itu, segarnya buah jeruk yang baru dipanen di daerah hulu sungai Barito kami nikmati sambil melihat ramainya perahu berlalu lalang di atas sungai.
Setelah matahari mulai meninggi dan barang-barang dagangan sudah laku dan habis, pedagang dan pembeli satu persatu meninggalkan lokasi pasar. Ketika pasar beranjak sepi sekitar jam 07.00 WITA dan puas menikmati keeksotikan pasar terapung, kami turut pergi juga dengan membawa pengalaman perjalanan yang tidak bisa dilupakan. Sangat impresif buat kami yang biasa hidup di darat.
Disisi lain, menurut cerita dari para pedagang yang kami temui , kondisi pasar sekarang jauh lebih sepi dibanding 10 tahun yang lalu, dan keunikan pasar terapung itu dikawatirkan suatu saat akan punah karena pembangunan kota sekarang sedikit demi sedikit berorientasi kedarat. Jadi , nikmati keeksotisan Pasar Terapung Kuin Sungai Barito Banjarmasin sebelum dimakan zaman yang berorientasi ke darat.
Catatan travelling by Tanto
















