Disponsori oleh Pak Akhmad Masun dari website www.mlancong. com dan Boogie Advindo, produsen perlengkapan kegiatan outdoor, serta difasilitasi oleh Adolf Izaak dan Lolo Asinamura dari Milis Tamasya Indonesia, rombongan rafting yang terdiri dari 28 orang ini berangkat pagi-pagi sekali dari UKI, Cawang, Jakarta Timur, menuju Sungai Ciberang, Banten, dengan menumpang bus mini sewaan. Di tengah perjalanan menjelang tempat tujuan, bus sempat tidak kuat melewati tanjakan terjal sehingga beberapa dari kami memutuskan turun untuk meringankan beban bus. Hanya sekitar 6 atau 7 orang pemalas yang tak mau turun, termasuk saya. Hehe. Kami tiba menjelang jam makan siang di lokasi rafting, tepatnya di kantor Banteng Rafting, operator yang dipilih untuk mendampingi kami.
Usai makan siang khas Sunda yang maknyus tenan, kami pun bersiap diri memakai perlengkapan rafting. Memilih life vest dan helm aja sudah memakan waktu sendiri. Maklumlah, selain mempertimbangkan faktor keamanan (harus pas, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat), para peserta sebagian ganjen-ganjen, mempertimbangkan penampilan juga (harus matching dengan warna baju dan bentuk tubuh, hehehe).
Setelah memakai life vest dan helm, juga memegang dayung masing-masing, kami pun berkumpul melingkar di halaman rumput untuk melakukan pemanasan. Pemanasan yang ditujukan agar otot-otot lengan dan kaki menjadi lentur dan nyaman dipakai mengayuh ini dipimpin oleh Kang Umar, pemimpin para skipper. Selain pemanasan, Kang Umar juga menyampaikan dengan jelas mengenai cara memegang dayung yang benar, juga instruksi-instruksi yang harus dipatuhi saat pengarungan, seperti dayung maju, mundur, stop, boom, pindah kiri, pindah kanan. Diajarkan juga apa yang harus dilakukan saat kita terjatuh dari perahu. Kuncinya, jangan panik. Usahakan posisi tubuh terlentang, kepala menghadap ke depan, ke arah arus sungai mengalir. Saat pemanasan dan briefing ini kamera Metro TV maupun kamera Pak Don Hasman sibuk membidik sana-sini untuk mendapatkan momen yang menarik. Yup, benar sekali, acara rafting ini diliput oleh Metro TV dengan reporternya yang cantik bernama Rina. Memang sih, liputannya bukan khusus untuk acara rafting ini, melainkan juga mencakup acara trekking mereka ke Baduy sehari sebelumnya.
Para peserta sudah tak sabar untuk turun ke sungai, namun masih ada satu acara seremoni yang perlu disimak, yaitu sambutan singkat dari Pak Akhmad, Pak Anas dari Boogie, maupun Ibu Yuli dari Banten Rafting. Dalam kesempatan itu Pak Akhmad juga secara simbolis memberikan T-shirt kepada Lolo Asinamura, sebagai wakil peserta. Setelah itu, sesuai instruksi, kami semua berbaris mengelompokkan diri sebanyak 6 orang per kelompok. Caranya? Yang cowok-cowok, berhubung lebih sedikit dan tenaganya dibutuhkan untuk mengayuh perahu, berbaris di depan, dan yang cewek-cewek berebut memilih di belakangnya. . Hmmm… mirip sedikit dengan acara Take Him Out di Indosiar ya? Jadi dalam satu perahu minimal ada seorang peserta cowok. Kalau tidak salah hitung terbentuk 5 kelompok, plus satu perahu rescue yang diisi juga oleh tim Metro TV.
Di atas perahu, sebelum pengarungan dimulai, masing-masing skipper mengulang kembali instruksi-instruksi dalam pengarungan sambil kami memperagakannya langsung. Kesempatan ini digunakan juga oleh kami untuk berfoto-foto dulu. Tiba saatnya, akhirnya satu demi satu perahu melaju di tengah riak Sungai Ciberang yang hari itu debitnya 50 cm saja. Sayang memang, meskipun masih musim hujan, tapi debit air sudah turun di bawah normal. Normalnya adalah 90 cm. Di atas itu, sungai sudah tak aman untuk diarungi. Sementara dengan debit 50 cm, beberapa kali perahu peserta tersangkut di antara batu-batu kali. Kasihan deh skipper-nya, harus beberapa kali turun untuk menarik perahu agar bisa mengarung lagi. Kadang-kadang kami pun harus pindah ke kiri atau ke kanan dan menggoyang-goyangka n perahu supaya keluar dari jebakan batu. Memang akhirnya acara menggoyang-goyang ini jadi bahan gurauan tersendiri.
Secara umum jeram-jeram di Sungai Ciberang termasuk grade 2-3, tergantung debit air. Untuk para pemula, jeram segini sudah lumayan bikin gentar. Tapi bagi beberapa orang yang sudah sering berarung jeram, jeram segini dirasa masih kurang dahsyat. Tapi bagaimanapun, fun atau tidaknya peserta, tergantung kecerdikan skipper-nya juga. Contohnya perahu kelompok saya. Gara-gara salah satu peserta menanyakan bagaimana kalau perahu terbalik, eh oleh skipper-nya perahu kami beneran ditebalikin di Jeram Agung. Jeram ini lokasinya masih dalam ruas-ruas awal, belum begitu jauh dari titik start. Kami yang tak sadar tengah dikerjai Soleh, sang skipper, bingung tiba-tiba perahu kok miring. Dan, byurrrr…. Tumpahlah kami semua ke air, termasuk Soleh. Saya dan Rita tertahan di antara batu besar dan perahu. Lantas dibantu Soleh untuk menepi. Tati dan Yayat hanyut terbawa arus, dan akhirnya ditahan dan diangkat oleh perahu di depan. Utine dan Iyok, saya tidak ingat bagaimana dan ke mana mereka terbawa arus yang lumayan kencang. Yang jelas semua selamat dan senang. Bagaimana rasanya kebalik? Detik awal terguling, tentunya wajar jika kami agak panik. Tapi sejurus kemudian, kami malah langsung menikmati asyiknya dipermainkan arus dan ketawa-ketiwi. Swear deh, asyik bener! Sekali-sekali terbalik atau jatuh ke dalam jeram itu wajib hukumnya lho… Sebab sensasinya tak terkatakan dan tak tergantikan. Nggak cukup kalau cuma diceritakan, mesti rasakan sendiri!
Perahu-perahu tim lain ada yang tumpah separuh pesertanya di Jeram Zigzag, sementara perahunya nangkring dengan anggunnya di atas batu. Ada juga yang hanya satu atau dua penumpangnya yang terlontar saat perahu melintasi jeram. Perahu kami pun sempat menolong mengangkat peserta perahu lain, Hesma, setelah ia terlontar dari perahunya. Hesma, katanya tidak bisa berenang. Tapi dengan adanya life vest, otomatis dia atau siapa pun yang terjatuh akan mengambang. Ya, saat baru terguling sih agak-agak kelelep dan terpaksa minum air sungai itu biasa. O ya, arung jeram memang tidak mensyaratkan pesertanya bisa berenang. Karena ya itu tadi, ada life vest yang membantu kita mengapung. Kemampuan berenang hanya menambah kepercayaan diri saja dalam berarung jeram.
Kebetulan saya membawa serta kamera dengan casing underwater-nya ke dalam perahu (disimpan di dalam dry bag yang ditautkan ke tali perahu agar tidak jatuh atau menghilang jika perahu terbalik). Maka tiap kali ada kesempatan, saat perahu baru saja melewati jeram, atau saat istirahat dan perahu menepi, saya mengeluarkan kamera, dan para model dadakan pun langsung pasang aksi. Benar-benar narsis sunarsis deh!
Saat perahu mendekati dam kedua yang kondisinya jebol, terlihat di kanan sungai masyarakat sekitar yang mandi, gosok gigi, mencuci pakaian dan mencuci piring (mungkin juga buang air ya?). Mereka seakan tak terusik dengan adanya perahu-perahu kami. Bahkan ada beberapa anak kecil yang melambai-lambaikan tangan ke arah kami. Karena dam ini tidak seperti dam pertama yang bisa dilalui, kami pun turun dari perahu dan berjalan kaki ke darat, ke arah jalan raya. Sebetulnya setelah dam ini, sungai masih bisa diarungi. Hanya saja karena waktu sudah menjelang maghrib, diputuskan untuk menyudahi pengarungan sampai di sini.
Dengan pakaian basah di badan, kami menumpang truk menuju pemandian air panas alami Tirta Buana. Sayang, karena kolam air panas baru saja dikuras, temperatur air sangat panas. Merendamkan kaki saja rasanya sudah melepuh, apalagi berendam seluruh badan? Ada sih satu dua orang yang berani berenang, salah satunya Pak Lukman. Kalau saya sih cukup lah dengan menciprat-cipratkan air ke wajah dan seluruh tubuh. Pas untuk menghangatkan badan, apalagi kemudian hujan turun cukup deras.
Puas bermain air panas, rombongan kembali ke markas Banten Rafting yang jaraknya kurang lebih sepuluh kilometer dari Tirta Buana. Berhubung truk agak telat menjemput kami, sebagian peserta yang sudah tak sabar menyetop angkot untuk kembali.
Antrean kamar mandi mengular. Maklumlah, kamar mandi terbatas, sementara pesertanya banyak. Daripada mengantre lama, saya dan beberapa peserta lain memilih menyerbu makan malam dulu. Laper euy… Nikmat sekali rasanya makan malamnya walaupun menunya sederhana. Apalagi yang doyan pete tuh, girang banget melihat ada pete di antara menu yang disajikan.
Sekitar pukul sepuluh malam, saat semua peserta sudah selesai mandi dan makan, kami berkumpul di sebuah ruangan di rumah yang dijadikan markas juga. Ada sepatah dua patah kata dari Pak Akhmad dan Pak Adolf. Juga ada gorengan sebagai pengganjal perut bagi yang masih lapar. Berhubung halaman rumput becek usai tersiram hujan, dan mengingat kondisi sebagian dari kami yang sudah kelelahan, daaaan… karena gitarnya juga lupa dibawa, maka acara api unggun yang sedianya digelar malam itu, dibatalkan. Sebagian besar dari kami pun berangkat tidur ke kavling masing-masing. Ada yang di saung-saung terbuka, ada yang di kantor Banten Rafting, bangunan berdinding bilik bambu yang terdiri dari dua lantai, ada yang di rumah penduduk di seberangnya. Saya dan beberapa teman cewek yang tidur di lantai dua kantor Banten Rafting sempat mengalami gangguan yang sangat tak terduga. Ada tikus mencicit-cicit di belakang kami. Setiap kali sang tikus mencicit, secara kompak kami bangun dengan panik. Capek sih capek, ngantuk sih ngantuk, tapi kalau ada tikus… hmmm mending bangun deh! Untung akhirnya, entah si tikus yang sudah pergi atau tak mencicit lagi, atau kaminya yang terlalu lelah, sisa malam pun kami lewatkan dengan tidur pulas.
Singkat cerita, esok pagi, usai semuanya mandi dan sarapan nasi goreng, kami pun dengan berat hati meninggalkan Sungai Ciberang. Dengan terlebih dahulu berfoto keluarga dulu di depan saung, bersama kru Metro TV. Tujuan selanjutnya adalah outlet dan pabrik Boogie di Bogor. Dalam perjalanan pulang ini pun bus kembali tak punya tenaga untuk melewati tanjakan. Seperti saat pergi, sebagian peserta langsung berinisiatif turun, daaaaan…. kembali 6-7 peserta yang sama ogah turun. Sementara yang lain berjalan kaki jauh melintasi tanjakan demi tanjakan (ada juga yang diangkut mobilnya Pak Akhmad sih), saya dan beberapa rekan pemalas tetap bergeming di dalam bus.
Menjelang jam makan siang kami tiba di outlet Boogie untuk melihat-lihat perlengkapan olahraga outdoor yang dijual. Ada yang membeli sendal rafting, ada yang membeli ransel, dry bag dan sebagainya. Diskon 10 persen diberikan untuk pembelian produk Boogie.
Puas belanja, kami diantar menuju rumah makan sederhana tidak jauh dari situ. Menu yang disajikan menu rumahan yang cukup variatif. Kembali penggemar pete dan juga jengkol dimanjakan.
Masih ada satu acara tersisa di siang menjelang sore hari ini. Kunjungan ke pabrik Boogie. Meskipun kondisi badan lelah, tapi kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan penjelasan tentang bagaimana perahu karet dibuat. Ooo begini toh… Ada perahu karet khusus yang harganya mencapai 26 juta. Wow! Bisa buat biaya rafting puluhan kali tuh.
Dan berakhirlah kebersamaan kali ini. Bus kembali ke tempat kumpul yaitu UKI. Di sanalah, di depan halte kami bersalam-salaman mengucapkan salam perpisahan, dengan janji bertemu kembali di event-event selanjutnya. Terima kasih teman-teman. Senang mengenal kalian.

Oleh: Mayawati Nur Halim

















