Wisata Alam Pendakian
Menatap Batas Tertinggi Gunung Kerinci
- May.02.2012
- Written by Administrator
- Hits: 1267
Sesaat lagi, pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di bandar udara international Minangkabau Padang. Dari ketinggian beberapa ratus meter di atas permukaan laut, secara samar tampak bentangan nan indah bukit barisan memanjang, terbungkus kabut tipis yang menggantung. Alam Sumatera seolah bersolek menyambut kedatangan saya bersama tim.
Tiba di darat, saya dan rombongan bergegas melanjutkan perjalanan menuju Jambi, kurang lebih butuh waktu sembilan jam untuk mencapai desa terakhir yang akan kami tuju. Pukul delapan malam, mobil travel yang mengantar kami sudah memasuki wilayah Kersik Tuo Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, yaitu titik desa terdekat sebelum mendaki. Pemberhentian terakhir adalah di Homestay Paiman, komplek dimana kami bermalam dan mengatur kembali ritme perjalanan pada esok hari. Di homestay ini terdapat sepuluh kamar dan stiap kamarnya dapat ditempati dua sampai tiga orang. Tempatnya nyaman dan bersih. Selain di Homestay Paiman para pendaki jauh dapat juga menginap di Homestay Subandi, Darmin, Timan dan Famili yang tentunya ,”mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing,” ucap salah satu cucu paiman.






















Masih terngiang betul, tadi malam adalah hari Kamis tanggal 22 Maret 2012 ketika petang menyambut jejak pertama kami di desa ini. Dan kini pagi sudah menggantikannya. Pemandangan menjadi jelas, cuaca cerah dan birunya langit semakin menampakkan Gunung Kerinci, berdiri gagah dan tegak menjulang tinggi ke angkasa tepat di mana kaki-kaki kami berdiri.
Di sepanjang kanan jalan, luasnya hamparan hijau perkebunan teh membuat mata enggan berkedip. Mengajak setiap pendaki menyatu padu dalam dekapan alam kerinci. Tepat jam delapan pagi kami semua sudah bersiap melakukan pendakian. Ada dua rekan rimba senior yang ikut bergabung, Mas Panji dan Mas Agus panggilannya. Mereka pendaki dari Surabaya, yang baru saja tiba di homestay dinihari tadi.Tanpa rasa lelah, semangat dan tekadnya begitu kuat untuk langsung mendaki.
Pendakian diawali menyewa mobil bak terbuka, dengan melintasi Simpang Macan/Tugu Macan yang menjadi simbol kerinci dan arel luas perkebunan teh sampai menembus ladang perkebunan, menghiasi pandangan mata selama tiga puluh menit. Tepat areal kosong di sekitar papan reklame besi, tanpa sedikitpun tulisan spanduk yang menempel kami mengawali trekking. Tak ada tanda yang jelas apakah ini yang dimaksud R10 atau rimba sepuluh yang dimaksud para pendaki lain. Dari sini kami harus berjalan sekitar setengah kilo untuk mencapi pintu rimba. Pintu rimba merupakan gerbang awal sekaligus batas vegetasi antara ladang penduduk dengan rimba raya kerinci yang berketinggian 1.800m dpl.
Selepas itu jalur yang dilewati adalah lintasan setapak, landai dan dikelilingi hutan heterogen yang lebat dan pepohonan berukuran raksasa. Jarak tempuh 2 km atau sekitar dua puluh lima menit untuk tiba di Pos 1. Sorak-sorai dan nyanyian dari beberapa rekan saya, Silvi, Junloi, Rizki dan David menambah kecerian tim ketika bersantai sejenak di pos ini. lepas daerah ini jalur tetap landai hingga mencapai Pos 2. Lebatnya hutan tropis Sumatera dengan kontur tanah padat dan lembek masih mendominasi. Tak kurang dari satu jam untuk sampai di sini. Tanjakan ringan dengan medan yang hampir mirip dengan jalur sebelumnya adalah trek berikutnya untuk mencapai Pos 3.
Pendakian berlanjut menuju Shelter 1 (2.518 mdpl). Terik panas siang hari sudah begitu terasa. Kegerahan karena keringat cukup menguras tenaga dan memaksa kami untuk sering berhenti. Tak ada lagi celotehan panjang yang terdengar seperti sebelumnya. Hanya riuh suara burung dan teriakan monyet yang terus mengiringi sepanjang perjalanan. Meskipun sedikit lambat akhirnya kami tiba di Shelter 1. Istirahat sambil makan nasi bungkus yang sudah disiapkan dari bawah cukup membangkitkan energi kami yang cukup terkuras.
Bobi, Yudit, dan Donsi sudah mulai mengeluarkan suaranya, sekedar menghibur kami semua yang sedang santai atau rebahan sejenak sebelum melanjutkan pendakian. Satu jam kemudian pendakian pun dilanjutkan, medan berat sudah mulai terlihat. Pemandangan sudah tampak berbeda, ciri khas vegetasi hutan montana jenis hutan lumut, hutan kabut dan hutan awan lebih banyak dijumpai. Beberapa punggungan dan dataran rendah kehijau-hijauan sesekali tampak jelas karena kondisi hutan yang sedikit terbuka. Dari titik perhentian kami , terlihat tanjakan berkelok dan tajam yang harus dilewati. Hampir tiga jam pendakian, shelter 2 belum kami temui, Saya, Pakde Ari, Doni, Junloi dan Mamet berada di urutan paling belakang, sesekali berteriak kencang dan melontarkan candaan hanya sekedar menghibur diri.
Akhirnya tepat jam lima sore kami tiba di shelter 2 pada ketingggian 3072m dpl. Tampak beberapa rekan saya, Ikhsan, Sumanto, Silvi dan Onta sudah tiba setengah jam yang lalu. Beberapa tenda pun sudah rapi berdiri, tinggal satu tenda yang sedang dirapikan oleh David dan Wiwid. Beberapa menu masakan yang diberi nama khusus oleh Sitorus dan Yudit seperti oreg cinta, rendang persahabatan dan ayam gurau sudah siap untuk dimakan malam ini.
Sisa sore kami habiskan minum secangkir kopi dan teh panas sambil bersantai ria. Di lokasi ini kami menginap semalam sebelum melanjutkan pendakian ke puncak. Tempatnya sungguh ideal di musim seperti ini, meskipun shelter 3 adalah target awal untuk berkemah. Secara perlahan nuansa langit mulai merayap menuju gelap. Makan malam sudah tuntas kami lahap. Saat yang lain terlelap dalam perlengkapan anti dingin, saya masih ingin bercengkrama, menikmati harmonisasi alam hutan Kerinci yang kini menjadi sahabat. Sampai akhirnya, lelah memaksa memejamkan kedua mata kami.
Jam tiga dinihari, kami terjaga dan bersiap mendaki ke puncak. Jalur berupa bekas aliran air dan berubah menjadi selokan bila turun hujan menjadi menu berikutnya. Satu setengah jam berlalu kami tiba di shelter 3, di ketinggian sekitar 3320m. Kami berada di alam terbuka, tanpa ada satu batang pohon kecilpun yang dapat menahan hembusan angin dan kabut. Suhu ekstrim yang membekukan ditambah terjangan angin kencang membuat perjalanan mendaki ‘atap Sumatra’ semakin terasa berat. Tangan yang sudah terbalut sarung tangan seakan beku untuk dapat memegang batuan cadas yang keras dan tajam sebagai pegangan.
Dari batas vegetasi di shelter 3, jalur pendakian berupa kerikil bercampur pasir lepas yang melorot jika diinjak. Rute menuju puncak ini berada di igir tipis yang diapit jurang. Beberapa segmen pendakian harus dilalui dengan merangkak karena kemiringan tanjakan mencapai 60 derajat. Menghentikan langkah dan mengatur irama nafas dipadu gerakan kaki, bagi saya tak ubahnya sebuah instrumen orkestra dalam setiap perjalanan mendaki gunung.
Satu jam menjelang puncak, kami tiba di tanah agak datar. Lokasi ini lebih dikenal pendaki dengan sebutan Tugu Yudha . Di sana, tampak beberapa tugu prasasti untuk mengenang para pendaki hilang atau tewas saat mendaki Gunung Kerinci. Terlihat in memoriam atas nama Adi Permana Adji, pendaki asal Camp Stick Jakarta yang hilang pada bulan Desember 1983. Hampir seluruh korban hilang diantara Puncak Kerinci hingga Shelter 3, karena cuaca ekstrem, jalur pendakian sulit serta minimnya penunjuk jalan yang jelas. Pada titik ini, saya dikejutkan saat kedua rekan pendakian saya, Boby dan Rizki di terjang beruang madu hitam yang tiba-tiba muncul dari balik bebatuan besar Puncak Kerinci. Sungguh di luar nalar dan logika, kenapa dan mengapa, binatang buas tersebut sampai berada di ketinggian yang tak lazim bagi habitatnya. Beruntung, hanya luka goresan kecil di tangan dan sebagian kaki yang tidak terlalu berbahaya.
Makin ke atas, bingkai alam yang disajikan semakin berbeda, cucaca panas dingin terus silih berganti, menguji kesabaran. Setelah berhati-hati menginjak bebatuan yang mudah melorot, Puncak Kerinci berhasil dicapai seluruh anggota tim yang masih sehat pada pukul 08.30 pagi. Sebagian anggota tim yang pertama tiba, terlihat menikmati keindahan panorama natural puncak yang memanjang dari utara hingga ke selatan. Giliran saya, pendaki terakhir yang menginjak puncak, langsung mencari lokasi terbaik untuk mengambil gambar dari semua penjuru. Cuaca cerah dan tiadanya kabut memperjelas pandangan mata. Dinding disertai letupan kawah dari jarak terdekat menawarkan pemandangan menakjuban. Tampak kawah aktif seluas 400x120 meter terlihat hijau kekuning-kuningan terbias indah saat pantulan sinar menyentuhnya.
Dari sisi yang berbeda terlihat bentang alam yang dramatis. Indahnya Danau Gunung Tujuh, lanskap hutan hujan alam Sumatera sampai desa-desa lembah kerinci seolah mempertegas pesona Puncak Kerinci. Sajian lengkap penuh sensasi di atas puncak seakan membawa saya dan ke-empat belas rekan pendakian larut dalam perpaduan energi nyata Puncak Kerinci. Semua indra seolah dimanjakannya. Melahirkan inspirasi romantis dan cerita gunung yang akan terus menggema. Puas menikmati keindahan dan kedahsyatan di atas puncak, kami bersiap meninggalkan jejak dan kenangan untuk kembali ke bawah.
Dalam perjalanan turun tak kalah beratnya pada saat mendaki. Jalur curam dan licin dengan kanan kiri jurang terbentang sampai batas vegetasi. Tenaga harus ditumpukan ke kaki dan tubuh harus menjaga keseimbangan karena tiada pepohonan atau akar-akaran yang bisa jadi pegangan. Lepas itu, jalur sudah berkompromi. Akhirnya sebelum petang tiba kami tiba di Pintu Rimba. Bagi kami ini bukanlah akhir suatu pendakian dalam menaklukan Gunung Api tertinggi di Tanah Air. Tetapi bagaimana bersinergi dalam menjaga keseimbangan yang hakiki. Dan seperti jiwa-jiwa petualang yang senantiasa tertanam bahwa alam akan selalu mengajak para pejalan melangkahkan kaki dengan orang-orang tercinta menuju kedewasaan, melawan ke-egoisan semata dan menciptakan kebersamaan dan kesahajaan. Dan kami selalu percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan berbicara lewat alam.
Salam Rimba,
Dance






