Waduk yang terletak di tiga kabupaten ini, Sragen, Boyolali dan Grobogan memancarkan keindahan yang alami. Walaupun waduknya buatan manusia, namun keindahan bukit-bukit di sekitarnya dengan hutan jati sangat memikat hati.
Waduk Kedungombo mulai dibangun pada tahun 1985, dengan menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten. Sebanyak 5268 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal waktu proses pembangunan waduk ini.

















Dan seperti tertulis dalam sejarah, waktu itu ada 600 keluarga yang masih bertahan ketika proses pembangunan waduk dimulai. Hal ini dikarenakan masih ada perbedaan harga ganti rugi tanah antara penduduk setempat dengan pihak Pemerintah. Dan masing-masing bertahan dengan pendapatnya, sehingga terjadilah kekerasan antara aparat dengan penduduk setempat. Begitulah cerita singkat tentang sejarah kelam waduk ini.
Namun dibalik sejarah kelam tersebut, waduk Kedungombo menyimpan keindahan yang dapat dieksplore oleh para pecinta alam. Kontur tanahnya yang berbukit-bukit, membuat hamparan latar belakang waduk seperti hamparan lukisan alam yang tidak pernah membosankan ketika dipandang.
Dan keindahan itu akan lebih terasa jika kita naik perahu untuk mengelilingi sebagian waduk dan melihat karamba ikan dengan warung apungnya. Sungguh, kalau cuaca cerah, pemandangan waduk dari warung apung ini indah sekali. Keindahan itu akan semakin terasa lebih mantab dengan duduk di warung apung sambil makan gurame goreng atau bakar.
Kalau tidak mau menikmati gurame bakar di warung apung, kita bisa menikmatinya di pinggiran waduk, namun tentu saja pemandangannya tidak seindah ketika kita makan di warung apung. Bahkan karena keindahannya tersebut, waduk Kedungombo tak pernah sepi dari pengunjung. Pada saat libur panjang, libur sekolah ataupun liburan lainnya waduk ini selalu penuh pengunjung.
Jika berada di sekitar Solo atau Purwodadi, cobalah mampir ke waduk Kedungombo, hayati sejarah dan nikmati keindahannya.
By : AMGD
















